The Truth

Makna Kebenaran

Zainurrahman

Kebenaran diartikan sebagai apa yang secara umum dapat diterima oleh masyarakat, diyakini dan diakui keberadaannya. Sementara itu, kebenaran terdiri atas dua macam, yakni kebenaran subjektif dan kebenaran umum (general truth) atau yang disebut oleh Kierkegaard sebagai Kebenaran Objektif. Apa pentingnya kita harus mengetahui makna kebenaran? Agar kita dapat memahami mana yang benar dan mana yang tidak benar? Sejauh ini, jawaban dalam filsafat “tidak lebih berarti” dari jalan menemui jawaban itu sendiri.
Kebanyakan filsuf tidak mengakui atau setidaknya kurang sepakat bahwa terdapat kebenaran umum. Artinya, tidak ada kebenaran yang bersifat absolut, yang ada hanyalah opini saja. Jika opini itu valid dan dapat dipertanggungjawabkan, maka lahirlah suatu kesepakatan atau konvensi untuk menerima opini tersebut menjadi kebenaran yang dapat diterima. Dengan demikian, kebenaran umum adalah kebenaran subjektif yang mengalami pergeseran status menjadi kebenaran umum. Saya menyebutnya sebagai kebenaran konvensional.
Soren Abyee Kierkegaard menyebutkan “Yang terpenting adalah mencari kebenaran menurut aku”. Tetapi, kurang lebih pandangan Martin Heidegger cenderung berasumsi bahwa ada yang disebut dengan kebenaran sejati, yakni kebenaran yang apa adanya, kebenaran yang dapat dinikmati secara orisinil, tanpa ada prasangka (prejudice) dan penafsiran (interpretation) yang mendahuluinya. Dalam Sein und Zeit-nya, Heidegger-yang mengembangkan paradigma fenomenologis gurunya, Edmund Husserl- mengatakan bahwa untuk mampu menikmati kebenaran secara sempurna, manusia harus senantiasa berada dalam posisi netral, bersikap sebagai pemula dengan rasa ingin tahunya (curiousity) tanpa ada interpretasi mendahului ekspresi kebenaran tersebut. Bahkan dia mengklaim bahwa sesungguhnya kita menanti datangnya kebenaran dengan pencarian kita, bukan menjustifikasi bahwa “inilah kebenaran sejati”, karena kebenaran sejati adalah kebenaran yang tidak direduksi oleh rasionalisasi. Sebagaimana yang disebut oleh Erich Forrm (menyuarakan faham Marx) bahwa “Rasionalisasi sesungguhnya mereduksi kebenaran sejati”.
Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda, setiap orang adalah unik, bahkan segala sesuatu pada dasarnya unik. Wajar jika kebenaran secara pribadi (personal belief) senantiasa bervariasi antara seseorang dan orang lain. Namun demikian, kebenaran pribadi atau kebenaran subjektif itu sewaktu-waktu dapat mengalami pergeseran status menjadi kebenaran umum, dikala kebenaran itu “mulai disukai” oleh orang lain.
Lahirnya kebenaran-kebenaran subjektif yang bervariasi ini bukan karena ada keterbatasan akal manusia dalam mencerapi fenomena, tetapi disebabkan oleh kebebasan manusia dalam menafsirkan fenomena. Kebebasan manusia merupakan anugrah yang diberikan Tuhan. Sehingga tidak mungkin merupakan suatu kekurangan, melainkan keistimewaan.
Setiap manusia memiliki kebebasan berpikir dan kebebasan merasa, manusia memiliki kemampuan menciptakan dunia sendiri yang tidak dapat dipenetrasi oleh siapapun. Akan tetapi kebebasan itu terbatas oleh kesepakatan-kesepakatan bersama. Ada tanggung jawab moral dan intelektual dalam kebebasan itu. Anda bisa saja mengatakan bahwa satu tambah satu sama dengan tiga, tetapi apakah anda dapat mempertanggungjawabkan hal tersebut secara intelektual? Bukan gampang mematahkan kebenaran konvensional bahwa satu tambah satu sama dengan dua. Kebenaran dari sudut pandang ini adalah hasil kreatifitas yang sudah menyejarah.
Kebenaran yang sudah menyejarah ini terlembaga dalam suatu institusi masyarakat yang disebut dengan budaya. Kebenaran berdasarkan budaya ini juga sebenarnya merupakan simpul-simpul dari keyakinan dan pengakuan dari penganutnya, sehingga perubahan keyakinan para penganut bisa saja merubah kebenaran itu. Sangat dinamis. Anda bisa saja berjalan tanpa pakaian, dan mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan perlakuan anda itu. Tetapi apakah anda dapat mempertanggungjawabkannya secara moral? Tentu saja tidak. Hal tersebut adalah hal yang mungkin disebut tidak senonoh, tidak benar dan melanggar tata susila. Tetapi jika sembilan puluh lima persen penganut budaya berpakaian “membuka pakaian” dan berjalan telanjang dan berusaha melawan rasa malunya, maka kebenaran budaya berpakaian itu tidak akan berumur panjang.
Kebenaran pada gilirannya seperti pakaian yang dapat kita gunakan atau kita sarungkan pada sesuatu yang kita inginkan, dengan berbagai cara, asalkan bermanfaat dan diterima secara pribadi maupun secara umum. Kebenaran itu pada akhirnya tidak ada yang benar-benar, melainkan sesuatu yang dibenarkan saja. Manusialah yang menentukan kebenaran, manusia menciptakan kebenaran dan dapat menghapuskannya kembali atau menggantikannya dengan kebenaran yang baru. Kita mengakui pernyataan kebenaran seseorang karena kita ingin, atau suka orang tersebut, atau tidak mampu membantahnya. Artinya orang tersebut sudah melakukan penetrasi dalam dunia kebebasan kita. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut dan memang hal tersebut wajar. Namun kita berada dalam posisi yang tidak merdeka, alias kebebasan kita telah terenggut. Kita didikte, sekali lagi, tidak ada yang salah dengan hal ini. Ini semua wajar terjadi. Makna kebenaran yang sejati adalah terletak pada sesuatu yang tidak terjamah oleh kemampuan interpretasi kita. Selama kita menginterpretasi kebenaran, maka kebenaran itu telah tereduksi, dan menjadi sesuatu yang dibenar-benarkan.

Posted on September 14, 2011, in Publikasi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: